Saeful Base Camp

OcehanBocahDiTengahRimbaNyaDunia

5 Aliran Sesat Dalam Islam

1. Najjariyah

Mereka adl pengikut Husain bin Muhammad al-Najjar yg pandangan-pandangannya diadopsi oleh para penganut Mu’tazilah di daerah Rayy. Mereka ini terpecah ke berbagai subkelompok seperti Barghutsiyah Za’faraniyah dan Mustadrikah tetapi mereka sependapat dgn kelompok asalnya dalam perkara-perkara yg fundamental. Mereka sependapat dgn Mu’tazilah dalam menolak sifat-sifat Allah yakni mengetahui berkuasa berkehendak hidup mendengar dan melihat. Akan tetapi mereka sependapat dgn Shifatiyah tentang Allah menciptakan perbuatan-perbuatan . Najjar berpendirian bahwa Allah menghendaki diri-Nya sendiri sebagaimana Dia mengetahui diri-Nya sendiri pula. Allah dgn demikian timbullah keterkaitan secara umum sehingga kata Najjar Allah menghendaki yg baik dan buruk manfaat dan madharat. Kalau dikatakan bahwa Allah berkehendak berarti bahwa Dia berbuat tidak krn terpaksa atau terdesak . Najjar juga mengatakan bahwa Allah adl pencipta segala perbuatan manusia baik dan buruk benar dan salah; manusia memerlukan kepada sebagian perbuatan-perbuatan ini.

Dia selanjutnya berpendirian bahwa kekuatan yg diciptakan itu memiliki efek tertentu terhadap perbuatan-perbuatan ini; ini dinamakan sebagai kasab sebagaimana Asy’ari menamakannya. Dia juga sekata dgn Ay’ari bahwa dalam perbuatan terdapat kapasitas. Dalam perkara bahwa Allah dapat dilihat dgn mata Najjar menolaknya sebab – menurutnya – itu mustahil bagi Allah. Akan tetapi dia mengatakan bahwa Allah mungkin akan mengalihkan kekuatan dalam hatinya yg berupa ma’rifah ke dalam matanya dan manusia akan mengenal-Nya melalui matanya ini; hal seperti ini dapat disebut melihat. Najjar pun berpendapat bahwa firman Allah itu diciptakan tetapi dia berbeda pendapat dgn Mu’tazilah mengenai berbagai hal. Menurutnya misalkan firman Allah kalau ia dibaca ialah suatu aksiden dan kalau ia ditulis maka ia adl suatu jisim.

Mengenai firman Allah ini Za’faraniyh cukup mengherankan di satu pihak berkeyakinan bahwa ia bukanlah Allah sendiri dan segala apa selain Allah berati makhluk tetapi di pihak lain mereka berkeyakinan bahwa siapa saja yg mengatakan Alquran diciptakan maka ia kafir. Barangkali menurut mereka ada suatu perbedaan jika tidak pertentangannya sangat jelas. Mustadrikah menyatakan “Kami percaya bahwa firman Allah itu bukan Allah sendiri dan bahwa firman-Nya itu diciptakan. Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa firman Allah tidak diciptakan dan semua pendahulu kami menyepakati pernyataan ini. Maka dari itu kami pun berkeinginan utk menerimanya tetapi menafsirkan opini mereka bahwa firman Allah tidak diciptakan adl sebagai berikut; firman Allah tidak diciptakan dalam pola kata-kata dan suara melainkan diciptakan bukan dalam bentuk kata-kata ini adl sebuah salinan daripadanya.” Ka’bi meriwayatkan dari Najjar bahwa ia mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana dgn esensi-Nya bukan cuma melalui ilmu dan kekuasaan-Nya. Ini menuntun Najjar kepada pelbagai hal yg bukan-bukan .

Adapun mengenai pandangan bahwa pikiran manusia sudah dapat mengetahu Allah sebelum ada wahyu dia sepaham dgn Mu’tazilah yakni bahwa ia mesti mengetahui-Nya melalui refleksi dan berpikir. Iman menurut Najjar adl keyakinan/pembenaran . Lagipula kata Najjar barang siapa yg melakukan dosa besar kemudian ia mati sebelum bertaubat dari dosanya itu maka dia akan dihukum karenanya akan tetapi dia akan dikeluarkan lagi dari neraka itu sebab adl tidak adil jika Allah menyamakan dia dgn seorang kafir yakni Allah dikatakan tidak adil jika menyiksa yg beriman tetapi berdosa dgn siksaan yg kekal seperti yg ditimpakan kepada orang kafir. Muhammad bin ‘Isa yg dikenal dgn nama Barghuts Bisyr bin Ghiyats al-Muraisi dan Husain al-Najjar satu dgn lainnya memiliki ide yg sangat mirip. Mereka berpendirian bahwa Allah “berkehendak” dan tidak akan berhenti dari menghendaki segala sesuatu yg Dia ketahui akan terjadi baik ataupun buruk beriman atau kafir ta’at atau inkar. Namun demikian kebanyakan penganut Mu’tazilah menolak pendapat ini.

2. Al-Mirdariyyah

Mereka para pengikut ‘Isa bin Shubaih yg terkenal dgn sebutan Abu Musa yg bergelar al-Mirdar. Dia adl murid Bisyr bin al-Mu’tamir ia belajar ilmu darinya kemudian berzuhud. Dia juga dinamai rahibnya Mu’tazilah. Dia berbeda pendapat dgn yg lainnya dalam beberapa hal

Ucapannya tentang qadar bahwa Allah Ta’ala kuasa utk berdusta dan berbuat zalim jika Dia berdusta dan zalim Dia adl Tuhan yg pendusta dan zalim. Maha Suci Allah dari ucapannya ini.

Pendapatnya tentang masalah tawallud sama dgn pendapat gurunya dan ia menambahnya dgn memandang boleh terjadinya satu perbuatan dari dua pelaku dgn cara tawallud.

Pendapatnya tentang Alquran bahwa manusia kuasa utk membuat yg sama dgn Alquran dari segi kefasihan susunan dan balaghah. Dialah orang yg ekstrem dalam pendapat bahwa Alquran itu makhluk dan ia mengafirkan orang yg berpendapat bahwa Alqura itu qadiim dgn alasan bahwa orang itu telah menetapkan adanya dua dzat yg qadiim. Dia juga mengkafirkan orang yg bergaul dgn sultan dan menurut dia orang itu tidak berhak mewarisi dan diwarisi.

Ia juga mengafirkan orang yg berkata bahwa perbuatan-perbuatan hamba adl ciptaan Allah Ta’ala juga orang yg berpendapat bahwa Allah dapat dilihat dgn penglihatan mata di akhirat nanti. Dia bahkan berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam mengafirkan orang sampai-sampai dia berkata bahwa mereka kafir walau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Sekali waktu ia ditanya oleh Ibrahim bin as-Sanadi tentang penduduk bumi seluruhnya. Ia lalu mengafirkan mereka semua. Maka Ibrahim lantas menyanggah “Surga yg luasnya seluas langit dan bumi tidak dimasuki kecuali oleh kamu dan tiga orang yg mengikuti kamu?” Ia tak dapat menjawab dan diam seribu bahasa. Di antara muridnya adl al-Ja’faran Abu Zufar Muhammad bin Suwaid teman Abu Ja’far Muhammad bin Abdullah al-Iskaafi dan ‘Isa bin al-Haitsam serta Ja’far bin Harb al-Asyaj.

Al-Ka’bi menceritakan bahwa dua orang Ja’far ini berkata bahwa Allah Ta’ala menciptakan Alquran di lauhil mahfuzh dan tidak boleh dipindahkan krn mustahil sesuatu yg satu berada di dua tempat dalam satu waktu dan menurut mereka apa yg kita baca adl hikayah/meniru dari yg tertulis pertama di lauhil mahfuzh dan bacaan itu adl perbuatan dan ciptaan kita. Al-Ka’bi berkata bahwa inilah yg dipilihnya dari sekian pendapat yg berbeda tentang Alquran. Ia juga berpendapat tentang kemampuan akal dalam mengetahui baik dan buruk bahwa akal mewajibkan seseorang utk mengenal Allah Ta’ala dgn segala hukum-Nya dan sifat-sifat-Nya sebelum turunnya wahyu dan jika ia lalai dari mengenal-Nya Allah akan menghukumnya selama-lamanya.

3. An-Nazhzhamiyyah

Yaitu para pengikut Ibrahim bin Yassar bin Hani’ an-Nazhzham. Ia telah mengkaji berbagai kitab filosof kemudian ia campur adukkan ucapan para filosof itu dgn ucapan Mu’tazilah. Dia berbeda pandangan dgn yg lainnya dalam beberapa masalah berikut ini

Dia menambahkan pendapat tentang qadar baik dan buruknya di antaranya adl pendapatnya bahwa Allah Ta’ala tidak disifati dgn qudrah atas kejahatan dan maksiat dan tidaklah hal-hal itu termasuk dalam perkara yg masuk dalam qudrah Allah Ta’ala. Berbeda dgn pendapat Mu’tazilah lainnya yg mengatakan bahwa Allah kuasa atas hal-hal itu tetapi Dia tidak melakukannya krn hal-hal itu jelek. Pendapat an-Nazhzham bahwa kejelekan itu adl sifat dzat dari sesuatu yg jelek maka hal itulah yg mencegah disandarkannya perbuatan jelek kepada Allah. Maka dia berpendapat bahwa bisanya timbul kejelekan dari Allah adl sebab suatu kejelekan. Jadi Dia yg berlaku adil tidaklah disifati dgn qudrah atas kezhaliman.

Selanjutnya an-Nazhzham menambah kerancuan ini dgn pendapat bahwa Allah kuasa melakukan utk hamba-Nya apa-apa yg diketahui-Nya mengandung kemaslahatan mereka dan tidak kuasa melakukan yg tidak mengandung maslahat bagi mereka ini menyangkut urusan dunia. Adapun di akhirat an-Nazhzham berkata bahwa Allah Ta’ala kuasa menambah azab bagi penghuni neraka dan tidak kuasa menguranginya. Demikian juga Dia tidak kuasa mengurangi keni’matan penghuni sorga juga tidak kuasa mengeluarkan seorang pun dari penghuni sorga dan bahwa hal-hal yg demikian ini tidak masuk dalam kuasa Allah.

Berdasarkan pendapatnya ini berarti Allah Ta’ala itu terpaksa melakukan segala yg diperbuat-Nya. Sesungguhnya yg Maha Kuasa itu pada hakekatnya adl yg memiliki pilihan antara berbuat atau tidak. An-Nazhzham menjawab bahwa yg kalian wajibkan atasku dalam perkara qudrah juga wajib atas kalian dalam perkara fi’l . Bukankah menurut kalian Dia mustahil melakukannya walaupun mampu melakukannya jadi tidak ada bedanya.

An-Nazhzham sebenarnya mengambil pendapat ini dari ucapan filosof kuno yg mengatakan bahwa orang dermawan tidak boleh menyimpan sesuatu yg tidak dilakukannya maka apa yg dibuat dan diadakannya itulah yg kuasa dilakukannya. Jika dalam ilmu dan kuasa Allah Ta’ala ada yg lbh baik dan lbh sempurna lbh teratur dan lbh bermaslahat maka dari itu pastilah Dia melakukannya.

Pendapatnya tentang iradah bahwa Allah Ta’ala pada hakekatnya tidak disifati dengannya . Jika disifati dgn iradah secara syar’I dalam perbuatannya maka maksudnya adl bahwa Dia-lah Penciptanya dan Yang Menumbuhkannya berdasarkan ilmu-Nya. Dan jika disifati bahwa Dia menghendaki perbuatan-perbuatan hamba maka maksudnya adl bahwa Dia menyuruhnya atau melarangnya. Dan dari an-Nazhzhamlah al-Ka’bi mengambil pendapatnya tentang iradah.

Pendapatnya bahwa perbuatan hamba semuanya adl gerakan dan diam. Ilmu dan keinginan adl gerakan jiwa. Maksud dari gerakan ini bukanlah gerakan yg berpindah tetapi gerakan itu adl perubahan sebagaimana kata para filosof yaitu gerakan dalam kualitas kuantitas meletakkan di mana kapan dan sebagainya.

An-Nazhzham juga sepakat dgn para filosof bahwa manusia pada hakekatnya adl jiwa dan ruh sedangkan badan adl alat dan instrumennya. Namun ia tidak terlalu paham pendapat mereka dan cenderung pada pendapat para filosof naturalis bahwa ruh adl jasad halus yg menjerat tubuh dan masuk ke dalam hati seperti masuknya air ke dalam bunga mawar dan minyak ke dalam biji wijen atau lemak pada susu. Dan dia berkata bahwa ruh adl yg punya kekuatan dan kemampuan dan kehidupan serta kehendak. Dia mampu dgn jiwanya dan kemampuan itu ada sebelum perbuatan.

Al-Ka’bi menceritakan darinya dia berkata bahwa tiap sesuatu yg melampaui batas kemampuan yg berupa perbuatan maka itu adl perbuatan Allah Ta’ala atau bahwa Allah Ta’ala menciptakan batu dgn suatu tabi’at tertentu jika engkau melemparkannya ke atas dia akan terlempar dan jika mencapai titik akhir lemparan batu itu akan kembali ke tempatnya secara natural. Dia juga punya banyak kerancuan tentang atom dan hukumnya serta pendapat yg menentang para ahli ilmu kalam dan filosof.

Menurut pendapatnya bahwa Allah Ta’ala menciptakan sesuatu sesuai dgn bentuk dan hekekatnya sekarang ini. Seperti mineral dan barang tambang tumbuh-tumbuhan hewan dan manusia. Allah menciptakan Adam as dan menciptakan keturunannya hanya saja Allah menyembunyikan sebagian dalam sebagian yg lain. Masalah duluan atau belakangan itu hanya masalah kemunculan dari persembunyiannya bukan masalah penciptaannya dan keberadaannya. Pendapat ini sebenarnya dari ucapan filosof yg beraliran “sembunyi dan muncul”. Dan an-Nazhzham lbh cenderung mengakui pendapat para naturalis daripada kaum metafisik dari kalangan filosof.

Demikian beberapa pendapatnya di antara banyak pendapatnya yg rancu. Di antara pengikut an-Nazhzham adl al-Fadhl al-Hadatsi dan Ahmad bin Khabits. Ibn al-Rawandi mengatakan bahwa mereka mempercayai bahwa alam ini mempunyai dua pencipta satunya adl pencipta yg kekal yaitu Allah dan yg satunya adl pencipta yg diciptakan oleh Allah yaitu ‘Isa bin Maryam. Dan pendapat ini tentu saja bathil dan tertolak.

4. Ahmadiah

Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, mempunyai banyak nama dan keturunan. Suatu keistimewaan buat dia, “konon” semua itu diperoleh dari Tuhannya. Bahkan yang lebih menarik lagi, Mirza Ghulam Ahmad menguasai banyak bahasa, diantaranya: Bahasa Urdu, Inggris, Arab, Parsi, dan bahasa Ibrani. Dengan bahasa-bahasa itulah ia berdialog dengan Tuhannya.

Puteranya yang masyhur, Bashiruddin Mahmud Ahmad (1899-1965) yang menduduki tahta khalifah kedua dalam Jema’at Ahmadiyah, menulis tentang saat-saat kelahiran ayahnya sebagai berikut:

” Hazrat Ahmad as. lahir pada tanggal 13 Februari 1835 M, atau 14 Syawal 1250 H, hari Jumat, pada waktu shalat Subuh, di rumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Beliau lahir kembar. Yakni beserta beliau lahir pula seorang anak perempuan yang tidak berapa lama kemudian meninggal dunia. Demikianlah sempurna sudah kabar-ghaib yang tertera di dalam kitab-kitab agama Islam bahwa Imam Mahdi akan lahir kembar”.[2]

Demikian Bashiruddin M.A. menceritakan kelahiran ayahnya. Yang menjadi pertanyaan di sini ialah, oleh siapa dan pada siapa kabar ghaib lahir kembar itu telah disampaikan? Kemudian dalam buku-buku Agama Islam yang mana kabar itu dimuat?

Kiranya Bashir M.A. dan Ahmadiyahnya tidak berhasrat atau kurang perlu untuk menyebut nama orang-orang maupun buku-buku Islam yang menyebut berkenaan dengan kabar ghaib dan lahir kembar itu.

Lebih lanjut, perihal nama-nama yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, Bashiruddin maupun Ahmadiyah berkata:
“Asal nama beliau hanyalah Ghulam Ahmad, atau nama lengkap (full name) beliau adalah Ghulam Ahmad”. [3]

Kemudian terdapat di depan Ghulam Ahmad, sebuah nama lagi ialah Mirza. Dengan demikian nama kepanjangannya menjadi Mirza Ghulam Ahmad. Di antara ketiga sebutan tadi, hanya Ghulam sajalah yang tidak diperbincangkan. Sisanya yakni Mirza dan Ahmad, merupakan nama-nama yang mengandung di dalamnya arti dan tujuan yang istimewa. Betapa tidak istimewa? Allah sendiri (kata Bashiruddin) yang sering memanggil-manggilnya dengan nama Ahmad!!

“Kebiasaan beliau adalah suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka, waktu menerima baiat dari orang-orang, beliau hanya memakai nama Ahmad. Dalam ilham-ilham , Allah Ta’ala sering memanggil beliau dengan nama Ahmad”.

Aliran Ahmadiyah Qodiyan itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad dari India adl nabi dan rasul kemudian bagi yg tidak mempercayainya adl kafir murtad. Ahmadiyah Qodiyan memang mempunyai nabi dan rasul sendiri yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India. Ahmadiyah Qodiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci Tadzkirah.

Mereka menganggap kitab suci Tadzkirah adl kumpulan wahyu yg diturunkan Tuhan kepada Mirza Ghulam Ahmad yg kesuciannya sama dgn kitab suci Alquran krn sama-sama wahyu dari tuhan tebalnya lbh tebal dari Alquran. Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri utk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qodiyan di India.

Mereka mengatakan “Alangkah celakanya orang yg telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji akbar ke Qodiyan. Haji ke Mekah tanpa haji ke Qodiyan adl haji yg kering lagi kasar.” Selama hidupnya “nabi” Mirza tidak pernah pergi haji ke Mekah. Kalau dalam keyakinan umat Islam para nabi dan rasul yg wajib dipercayai hanya 25 orang dalam ajaran Ahmadiyah ada 26 orang. Yang ke-26 tersebut adl “nabi” Mirza Ghulam Ahmad.

Dalam ajaran Islam kitab samawi yg dipercayai ada empat buah yaitu Zabur Taurar Injil dan Alquran. Tetapi bagi ajaran Ahmadiyah Qodiyan kitab suci yg wajib dipercayai harus lima buah dan kitab suci yg kelima adl kitab suci Tadszkirah yg diturunkan kepada “nabi” Mirza Ghulam Ahmad ciptaan konspirasi politik internasional.

Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal bulan dan tahun sendiri nama bulan Ahmadiyah adl Suluh Tablig Aman Syahadah Hijrah Ihsan Wafa Zuhur Tabuk Ikha’ Nubuwah Fatah. Adapun tahunnya adl Hijri Syamsi yg biasa mereka singkat dgn HS. Tahun Ahmadiyah saat ini adl 1373 HS . Kewajiban menggunakan tanggal bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut atas perintah khalifah Ahmadiyah yg kedua yaitu Basyiruddin Mahmud Ahmad.

Berdasarkan firman “tuhan” yg diterima oleh “nabi” dan “rasul” Ahmadiyah yg terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yg artinya “Dialah tuhan yg mengutus rasulnya ‘Mirza Ghulam Ahmad’ dgn membawa petunjuk dan agama yg benar agar dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.” . Isinya meniru-niru kitab suci Alquran. Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri kitab suci sendiri tanggal bulan dan tahun sendiri tempat utk haji sendiri serta khalifah sendiri yg sekarang khalifah yg keempat yg bermarkas di Inggris Thahir Ahmad.

Khalifah Ahmadiyah adl khalifah fiktif yg dibentuk dgn tujuan politik. Semua anggota Ahmadiyah diseluruh dunia wajib tunduk dan taat kepada Thahir Ahmad. Orang di luar Ahmadiyah adl kafir dan wanita Ahmadiyah haram menikah dgn laki-laki di luar Ahmadiyah. Jika tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran. Berdasarkan ayat kitab suci Ahmadiyah Tadzkirahbahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul yg dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Alquran dibatalkan dan digantikan oleh “nabi” Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad.

Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab suci ‘Tadzkirah’ ini dekat dgn Qodian-India. Dan dgn kebenaran kami menurunkannya dan dgn kebenaran dia turun.” . Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah”Katakanlah wahai Mirza Ghulam Ahmad ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku’.” . Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah”Dan kami tidak mengutus engkau wahai Mirza Ghulam Ahmad kecuali utk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” . Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu hanya diberi wahyu kepadaku’.” . Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu-wahai Mirza Ghulam Ahmad-kebaikan yg banyak.” .

Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Sesungguhnya kami telah menjadikan engkau -wahai Mirza Ghulam Ahmad-imam bagi seluruh umat manusia.” . Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Oh pemimpin sempurna engkau wahai Mirza Ghulam Ahmad seorang dari rasul-rasul yg menempuh jalan betul diutus oleh yg maha kuasa yg rahim.”. Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam lailatur qadar.”. Firman “tuhan” dalam kitab suci Tadzikrah “Dan bukan kamu yg melempar ketika kamu melempar tetapi Allahlah yg melempar.

Masih banyak lagi ayat-ayat kitab suci Alquran yg dibajaknya. Ayat-ayat yg dikutip di atas adl penodaan dan bajakan-bajakan dari kitab suci umat Islam Alquran. Mirza Ghulam Ahmad mengaku kepada umatnya bahwa ayat-ayat tersebut adl wahyu yg diterima dari “tuhannya” di India.

Penodaan Agama dan Hukumnya Pada kitab Undang-Undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yg berbunyi sebagai berikut. PASAL 56 a Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.84 tanggal 20 September 1984 a.l.
Selain itu, diluar negeri juga telah ada larangan serupa:

- Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak 18 Juni 1975.
– Brunai Darus Salam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunai Darus Salam.
– Rabithah Alam Islamy yg berkedudukan di Mekah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adl kafir dan keluar dari Islam.
– Pemerintah kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adl kafir dan tidak boleh pergi haji ke Mekah.
– Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah golongan minoritas nonmuslim. Simpulan Ahmadiyah sebagai perkumpulan atau jemaat didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qodiyan India tahun 1889 yg krn perbedaan pandangan tentang penerus kepemimpinan dalam Ahmadiyah dan ketokohan pendirinya berkembang dua aliran yaitu Anjuman Ahmadiyah dan Anjuman Ishaat Islam Lahore .

Kedua aliran tersebut mengakui kepemimpinan dan mengakui ajaran yg bersumber pada ajaran Mirza Ghulam Ahmad. Jemaat Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1920-an dgn menamakan diri Anjuman Ahmadiyah Qodiyan Departemen Indonesia dan kemudian dinamakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia yg dikenal dgn Ahmadiyah Qodiyan dan gerakan Ahmadiyah Lahore yg dikenal dgn Ahmadiyah Lahore. Mirza Ghulam Ahmad mengaku telah menerima wahyu dan dgn wahyu itu dia diangkat sebagai nabi rasul al-masih mau’ud dan imam mahdi.

Ajaran dan paham yg dikembangkan oleh pengikut jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam berdasarkan Alquran dan hadis yg menjadi keyakinan umat Islam umumnya antara lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad sesudah Rasulullah saw.

Penutup Sebagai penutup kajian ini kami kutip sebuah ayat Alquran yg mengancam orang yg mengaku menerima wahyu serta menulis kitab dgn tangannya sendiri kemudian dikatakannya dari Allah SWT dgn dusta yg amat keji seperti yg dilakukan oleh “nabi” Mirza di atas. Allah SWT berfirman yg artinya “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yg menulis al-kitab dgn tangan mereka sendiri lalu dikatakannya ‘Ini dari Allah’ utk memperoleh keuntungan yg sedikit dgn perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka akibat dari apa yg ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yg mereka kerjakan”.

5. Al-Qadiani

Berikut ini kami paparkan keyakinan-keyakinan Al-Qadiani yg menyesatkan itu.

Pengakuannya adl sebagai mujadid Al-Masih Al-Mahdi nabi rasul dan pengakuan lainnya yg berkisar antara mujadid hingga kenabian bahkan lbh tinggi dari kenabian.
Berikut wbw cuplikkan beberapa pengakuan “gila” nya:

“Banyak hati telah mati telah banyak dosa sangat keras kesusahan pada malam yg larut dalam kegelapan yg pekat rahim Allah mengeluarkan cahaya langit. Akulah cahaya itu al-mujadid yg dapat perintah hamba yg ditolong Al-Mahdi yg dikenal Al-Masih yg dijanjikan. Dan sesungguhnya aku berada dalam posisi yg sangat mulia di sisi Tuhanku tak ada seorang pun yg mengetahuinya.” .

“Kabar gembira utk kamu sekalian! Telah datang kepadamu Al-Masih. Ia telah diusap Yang Maha Kuasa dan diberinya ucapan yg fasih.. Kebahagiaan utk kamu! Telah datang kepadamu Al-Masih yg dikenal membawa harta yg banyak dan barang yg bertumpuk.. Wahai sekalian manusia sesungguhnya aku adl Al-Masih al-Muhamadi. Sesungguhnya aku Ahmad al-Mahdi.” .

“Akulah Al-Masih yg dijanjikan yg telah ditentukan kedatangannya di akhir zaman oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Akulah orang yg diberi ni’mat yg disebutkan dalam surah Al-Fatihah pada saat muncul dua golongan tersebut.”

Aku dilahirkan kembar dgn seorang putri di desa ini tetapi saudari kembarku itu wafat dan aku tetap diberi kehidupan oleh Allah pemilik kemuliaan. Kejadian ini tentu sangat jarang di masyarakat.

Meskipun demikian aku hidup dgn dua penyakit.

1. Penyakit di bagian bawah . Dalam sehari semalam ia bisa kencing sampai seratus kali.
2. Penyakit di bagian atas .

“Jadi kehidupanku lbh aneh dari kelahiran Al-Masih dan lbh besar mukjizatnya bagi orang yg melihat.” . “Sesungguhnya akulah Al-Masih dan sesungguhnya aku berjalan dan aku mengembara.

Sesungguhnya Isa telah wafat dan tidak hidup seperti hidupku.” . “Akulah Al-Masih. Akulah al-hakim. Akulah Muhammad. Akulah Ahmad yg terpilih.” . “Aku dijadikan sebagai Maryam dan aku menjadi Maryam selama dua tahun.. Kemudian ditiupkan roh kepada Isa sebagaimana ditiupkan kepada Maryam lalu ia hamil dalam bentuk pinjaman setelah beberapa bulan tidak lbh dari sepuluh bulan aku pisahkan dari Maryam dan aku dijadikan Isa. Dengan demikian jadilah aku putra Maryam.” . Sesungguhnya Allah menemai aku Maryam yg hamil mengandung Isa. Akulah yg dimaksudkan oleh firman Allah Taala “Dan Maryam putri Imran yg mensucikan kehormatannya lalu Kami tiupkan kepadanya roh Kami”.

“Karena akulah satu-satunya orang yg mengakui bahwa aku adl Maryam dan bahwa ditiupkan kepadaku roh Isa.” . “Saya melihat diriku dalam keadaan kasyaf seakan aku ini seorang wanita lalu Allah menampakkan kepadaku kekuatan pria isyarat ini sudah cukup utk orang yg cerdas dan paham.” . “Sebelum turun wabah penyakit Tuhanku mewahyukan kepadaku ‘Buatlah perahu di bawah pengawasan-Ku dan janganlah engkau mengajak Aku berbicara kepada orang-orang yg zalim krn mereka pasti tenggelam. Sesungguhnya orang-orang yg berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka berbaiat kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.”

“Lihatlah sekarang sesungguhnya Allah telah menjadikan wahyu-Nya kepadaku ajaran-ajaranku baiat kepadaku sama dgn perahu Nuh dan Allah menjadikannya sebagai kunci keselamatan seluruh manusia.”

“Sungguh Tuhanku telah memberi tahu kepadaku bahwasannya aku seperti perahu Nuh bagi seluruh makhluk. Maka siapa yg datang kepadaku dan masuk dalam baiat sungguh ia selamat dari kehilangan. Maka sungguh bahagialah kaum yg selamat.”

“Perumpamaanku di sisi Allah seperti Adam.. Lalu Allah menjadikan aku sebagai Adam lalu dia memberiku semua yg telah diberikan kepada Abul Basyar .” . “Pengakuan bahwa aku adl rasul dan nabi.” . “Dan Allah yg sebenarnya. Dialah yg mengutus rasul-Nya di Qadian.” .

Ref:
http www.alislam.or.id/
http://blog.re.or.id/
http://groups.yahoo.com/group/mencintai-islam
– dan beberapa sumber lain

6 October 2010 Posted by | Lintas Informasi | | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 86 other followers