Saeful Base Camp

OcehanBocahDiTengahRimbaNyaDunia

Media Online & Jurnalistik Virtual


Media online adalah media massa yang dapat kita temukan di internet. Sebagai media massa, media online juga menggunakan kaidah-kaidah jurnalistik dalam sistem kerja mereka. Tapi apakah ada bedanya dengan media massa konvensional?
Sebetulnya, tak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Perbedaan yang pa-ling mencolok adalah mediumnya. Yang satu virtual, satunya lagi tercetak. Kare-na itu, se-cara teknis ada hal-hal tertentu yang – mau tidak mau – membuat mereka berbeda.

Sebagian besar perbedaan jurnalistik media cetak dengan media online hanyalah pada masalah-masalah teknis.Dari segi sifatnya, ada satu kemiripan antara me-dia online dengan media elek-tronik seperti radio dan televisi. Mereka selalu dituntut untuk menyajikan berita yang paling /up to date/ secepat mungkin. Mereka juga biasanya tidak perlu menunggu hingga seluruh data ter-kumpul. Begitu ada data, walau hanya sedikit, mereka langsung melaporkannya. Jika ada perkembangan baru mengenai peristiwa tersebut, mereka melaporkannya lagi. Demikian seterusnya. Karena itu, aturan penulisan di dalam media online cenderung lebih bebas, tidak ter-lalu terpaku pada kaidah-kaidah bahasa dan jurnalistik yang berlaku umum.

Teknik Penulisan
Umumnya orang ingin membaca berita-berita di in-ternet secara cepat. Selain karena malas lama-lama “memelototi” layar monitor, mereka juga diburu-buru oleh mahal-nya pulsa internet. Karena itu, gaya bahasa pada media online pun hendaknya disesuaikan dengan hal ini. Harus ringkat, padat, dan menarik.
Biasanya pada halaman pertama sebuah media on-line terdapat tampilan berita-berita terbaru yang terdiri dari judul dan /lead/. Umumnya, lead ini adalah alinea pertama dari artikel berita tersebut, walau tidak mesti demikian. Yang harus diperhatikan: buatlah lead yang semenarik mungkin agar netter tergoda untuk mengklik berita tersebut (atau membaca artikel pe-nuhnya). Jika alinea pertama tidak menarik untuk dijadikan lead, carilah bagian-bagian lain yang lebih me-narik. Atau buat saja lead khusus yang berbeda. Ini sah-sah saja, yang penting isinya masih sejalan dengan /full article/.

Jurnalis Media Online
Selain menguasai tentu saja ilmu jurnalistik, seorang jurnalis media online hendaknya juga menguasai dasar-dasar HTML[3] . Tidak harus terlalu mendalam, cukup yang umum-umum saja. Minimal, mereka harus mengetahui bagaimana cara membuat huruf tebal, huruf miring, menempatkan gambar di dalam naskah, membuat /hyperlink/, dan beberapa pengetahuan HTML mendasar lainnya. Ini akan sangat membantu mereka dalam pembuatan tulisan yang sesuai dengan sifat-sifat halaman web yang jauh berbeda dengan halaman media cetak.
Biasanya panjang naskah telah dibatasi, misalnya 5 – 7 halaman kuarto diketik dua spasi. Tidak ada pembatasan panjang naskah, karena halaman web bisa me-nampung naskah yang sepanjang apapun. Namun demi alasan kecepatan akses, keindahan desain dan alasan-alasan teknis lainnya, perlu dihindarkan penulisan naskah yang terlalu panjang.
Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi/redpel sebelum dimuat. Sama saja. Namun ada sejumlah me-dia yang memperbolehkan wartawan di lapangan yang telah dipercaya untuk meng-upload[ 5] sendiri tulisan-tulisan mereka.

Editing
Kalau sudah naik cetak (atau sudah di-filmkan pada proses percetakan), tak bisa diedit lagi. Walaupun sudah online, masih bisa diedit dengan leluasa. Tugas desainer atau layouter. Tiap edisi, desainer atau layouter harus tetap bekerja untuk menyelesaikan desain pada edisi tersebut. Desainer dan programmer cu-kup bekerja se-kali saja, yakni di awal pembuatan situs web. Selanjutnya, tugas mereka hanya pada masalah-masalah /main-tenance/ atau ketika perusahaan memutuskan untuk me-ngubah desain dan sebagainya. Setiap kali redaksi meng-upload naskah, naskah itu akan langsung “masuk” ke desain secara otomatis.

Distribusi
Walau sudah selesai dicetak, media tersebut belum bisa langsung dibaca oleh khalayak ramai sebelum melalui proses distribusi. Begitu di-upload, setiap berita dapat langsung dibaca oleh semua orang di seluruh du-nia yang memiliki akses internet.

Alur Kerja
Secara teknis, tugas redaksi media online cukup mudah. Ia hanya perlu mengisi sebuah *formulir online*. Ada isian judul, ringkasan berita atau /lead/, artikel pe-nuh, dan isian-isian lainnya. Setelah mengklik tombol *Submit* atau *Kirim*, arti-kel tersebut sudah langsung online.
Mengenai alur kerja, sebenarnya media online tidak jauh berbeda dengan me-dia cetak. Karena sifatnya yang harus menyajikan berita secara cepat (sebagai-mana halnya media elektronik), maka media online perlu me-lakukan beberapa penyesuaian di dalam proses ker-janya.
Ketika ada kejadian, reporter di lapangan menelepon redaktur. Si redaktur pun menelepon balik si reporter, meminta informasi lebih lanjut, dan jika perlu dilakukan cek dan ricek. Setelah itu, redaktur menulis naskah dan meng-uploadnya melalui formulir online. Ini adalah contoh alur kerja yang standar.
Bisa juga, si reporter melakukan reportase dan me-nulis sendiri. Tulisan ini diki-rim ke redaksi melalui email atau media-media lain. Proses selanjutnya sama seperti di atas. Umumnya, yang berhak untuk meng-upload naskah hanyalah redaksi. Namun, ada media tertentu yang memberikan wewenang khusus kepada reporter tertentu yang telah dipercaya. Si reporter ini bisa meng-upload sendiri berita yang mereka tulis, melalui komputer warnet, laptop, atau media-media lain yang memung-kinkan.
Masih ada beberapa alur kerja yang bisa diterapkan pada media online. Namun alur-alur di atas cukuplah menjadi contoh. Semoga dapat menjadi gamba-ran yang memuaskan.

Teknis Pengiriman
Halaman web memiliki sifat yang sangat berbeda dengan halaman media cetak. Karena itu, jika Anda hen-dak mengirim naskah ke sebuah media online, hen-dak-nya Anda memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Ketiklah naskah dengan program NotePad atau program-program sejenis (bukan program pengolah kata seperti MS Word dan sebagainya). Penulisan naskah dengan pengolah kata seperti MS Word biasanya menghasilkan banyak “karakter aneh” ketika naskah tersebut diproses oleh redaksi.
2. Pisahkan pergantian alinea dengan menekan tombol enter sebanyak dua kali. Kenapa? Sebab penulisan nas-kah di website tidak mengenal format “awal paragraf ditandai dengan pengetikan agak menjorok ke dalam” seperti yang bia-sa ditemui pada media cetak. Kalau tombol enter hanya ditekan sekali, pembaca akan ke-sulitan melihat batas-batas alinea.
3. Jangan pakai tombol tab atau menekan tombol spasi lebih dari satu kali. Tabulasi akan diabaikan oleh halaman web. Sementara jika Anda menekan tom-bol spasi sebanyak apapun, yang dipakai hanya satu. Jadi percuma saja Anda repot-repot mengatur tabulasi dan spasi yang macam-macam.
Karena internet adalah dunia yang bebas, Anda memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar dengan melakukan praktek langsung. Caranya: buatlah sebuah situs dan kelola dengan serius. Siapa pun bisa membuat situs di internet, tak ada yang melarang!

4 May 2010 - Posted by | Lintas Informasi |

5 Comments »

  1. ehem….sejak kapan saudagar saepuloh tertatik dengan dunia ‘kami’.

    Comment by samsoe | 4 May 2010 | Reply

    • sejak ente kuliah di FIKOM UNPAD, gw pan ikut mulu ma ente… wkwkwwk…
      dink, tukeran link dunk… website ente apaan…? bikin yg free aja… itung2 kliping dunia maya…

      Comment by Saeful Kamal | 5 May 2010 | Reply

  2. siang…

    Comment by Kerinci | 1 March 2011 | Reply

  3. Reblogged this on RESphotomedia and commented:
    Media Online

    Comment by ryanedisaputra | 20 December 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: